Minggu, 30 Januari 2011

Intisari Sejarah : Perang Korea 1950-1953


Perang Korea dari 25 Juni 1950 sampai 27 Juli 1953 adalah sebuah konflik antara Korea Utara dan Korea Selatan.  Perang ini sering disebut sebagai proxy war antara Amerika Serikat dan sekutunya dari Blok Barat dengan Komunis Republik Rakyat China dan Uni Soviet dari Blok Timur.
Semenanjung Korea mulanya diduduki oleh Jepang sejak 1905 setelah Perang Rusia-Jepang.  Selama Perang Dunia II, tentara Jepang memanfaatkan makanan, ternak, dan logam dari Korea untuk tujuan perang.  Pendudukan Jepang di Korea dan Taiwan itu tidak diakui oleh negara kekuatan dunia pada akhir perang. Pada Konferensi Postdam (Juli – Agustus 1945), sekutu secara sepihak memutuskan membagi wilayah Korea menjadi dua, tanpa persetujuan pihak Korea. Korea dibagi menjadi dua di garis lintang 38 derajat, dengan wilayah utara di bawah penguasaan Uni Soviet dan RRC dan wilayah selatan di bawah penguasaan Amerika Serikat dan sekutunya. 
Dengan alasan membalas provokasi Korea Selatan, Tentara Korea Utara (tentara Korut) menyebrangi paralel ke-38, dibantu tembakan artileri, Minggu pagi tanggal 25 Juni 1950. Beberapa jam kemudian kemudian, Dewan Keamanan PBB dengan suara bulat mengecam invasi Korea Utara terhadap Republik Korea, melalui Resolusi 82 DK PBB. Setelah memperdebatkan masalah ini, DK PBB, pada 27 Juni 1950, menerbitkan Resolusi 83 yang merekomendasikan negara anggota memberikan bantuan militer kepada Republik Korea. Ketika menunggu pengumuman fait accompli dari dewan kepada PBB, Wakil Menteri Luar Negeri Uni Soviet menuduh Amerika memulai intervensi bersenjata atas nama Korea Selatan.
Korea Utara memulai "Perang Pembebasan Tanah Air" dengan melakukan invasi darat dan udara dengan 231.000 tentara, yang berhasil menguasai objek dan wilayah sesuai dengan yang direncanakan seperti Kaes┼Ćng, Chuncheon, Uijeongbu, dan Ongjin, yang mereka dapatkan setelah mengerahkan 274 tank T-34-85, 150 pesawat tempur Yak, 110 pesawat pengebom, 200 artileri, 78 pesawat latihan Yak, dan 35 pesawat mata-mata.
Sebagai tambahan pasukan invasi, tentara Korut memiliki 114 pesawat tempur, 78 pesawat pengebom, 105 T-34-85, dan 30.000 pasukan yang berpangkalan di Korea Utara. Di laut, meskipun hanya terdiri dari beberapa kapal perang kecil, juga terjadi pertempuran yang cukup sengit antara keduanya.
Di pihak lain, tentara Korea Selatan masih belum siap. Pada South to the Naktong, North to the Yalu (1998), R.E. Applebaum melaporkan bahwa tentara Korea Selatan memiliki tingkat kesiapan tempur yang rendah pada 25 Juni 1950. Tentara Korea Selatan hanya memiliki 98.000 tentara (65.000 tentara tempur, 33.000 tentara penyokong), tidak memiliki tank, dan 22 pesawat yang terdiri dari 12 pesawat tipe penghubung dan 10 pesawat latihan AT6. Selain itu tidak ada pasukan asing yang berpangkalan di Korea saat itu - meskipun terdapat pangkalan AS di Jepang.
Presiden Amerika Serikat, Harry S. Truman memerintahkan Jenderal MacArthur mengirim material kepada tentara Republik Korea dan memberikan perlindungan udara pada evakuasi warga negara Amerika Serikat atas rekomendasi Menteri Luar Negeri Dean Acheson. Akan tetapi, Truman menolak mengebom Korea Utara secara langsung. Selain itu, Truman juga memerintahkan Armada ke-7 AS untuk melindungi Taiwan, yang meminta untuk ikut bertempur di Korea.
Dalam keputusasaan di Pertempuran Perimeter Pusan (Agustus-September 1950), Angkatan Darat Amerika Serikat menahan serangan tentara Korut yang bermaksud merebut kota. Di saat yang sama, garnisiun AS di Jepang terus-menerus mengirim tentara dan bahan untuk memperkuat Perimeter Pusan. Untuk membantu pertahanan di Perimeter Pusan, Jenderal MacArthur merekomendasikan sebuah pendaratan amfibi di Incheon, di belakang garis pertahanan Korut. Pada tanggal 1 Oktober 1950, Komando PBB mendorong tentara Korut hingga ke Utara, melewati paralel ke-38, Republik Korea kemudian mengejar mereka masuk ke wilayah Korea Utara.
Tanggal 4 Agustus 1950, Mao Zedong melapor kepada Politbiro bahwa ia akan melakukan intervensi bila Tentara Relawan Rakyat (PVA) sudah siap untuk dimobilisasi.  Peperangan tentara PBB dan China terus berlanjut, namun perubahan wilayah kekuasaan tidak banyak berubah dan terjadi kebuntuan. Sementara pengeboman wilayah Korea Utara terus berlangsung, perundingan gencatan senjata dimulai tanggal 10 Juli 1951 di Kaesong.
Negosiasi gencatan senjata berlanjut selama dua tahun, di Kaesong (Korea Utara bagian Selatan), kemudian di Panmunjon (perbatasan kedua Korea).  Problem utama dari negosiasi ketika itu adalah repatriasi tawanan perang.  China, Korea Utara, dan tentara PBB tidak bisa membuat kesepakatan karena banyak tentara China dan Korea Utara yang menolak kembali ke Utara.  Dalam perjanjian gencatan senjata terakhir, sebuah Komisi Repatriasi Negara-Negara Netral dibentuk untuk mengurusi masalah tersebut.
Pada 27 Juli 1953, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, dan Korea Utara menandatangani persetujuan gencatan senjata.Presiden Korea Selatan, Seungman Rhee, menolak menandatanganinya namun berjanji menghormati kesepakatan gencatan senjata tersebut. Namun secara resmi, perang ini belum berakhir sampai dengan saat ini.

Sumber :
http://id.wikipedia.org/wiki/Perang_Korea (diakses pada 30 Januari 2011)
http://www.fsmitha.com/h2/ch24kor.html (diakses pada 30 Januari 2011)

Sabtu, 29 Januari 2011

Resensi Buku : Learning Maps and Memory Skills


Jenis                                      : Nonfiksi
Judul                                     : Learning Maps and Memory Skills
Penulis                                 : Ingenar Svantesson
Penerbit                              : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit                      : 2004
Jumlah halaman               : x + 152 halaman

Buku ini merupakan buku pengembangan diri yang ditulis oleh Ingenar Svantesson. Penulis merupakan pengajar dan pembicara dalam berbagai kursus dan seminar tentang pengembangan diri, khususnya mengenai teknik pembelajaran. Tujuan yang ingin dicapai buku ini adalah pembaca dapat menemukan teknik belajar yang tepat dan dapat memaksimalkan potensi otak. Materi dari 1000 kursus dan seminar yang diselenggarakan penulis di Swedia, Norwegia, Finlandia, Belanda, Inggris, dan New Zealand menjadi sumber penulisan buku ini.

Peta pembelajaran dan teknik mengingat merupakan tema utama yang dibahas dalam buku ini. Peta pembelajaran adalah teknik membuat catatan. Peta pembelajaran dapat digunakan dalam berbagai situasi seperti perencanaan, penyelesaian masalah, membuat ringkasan, mengumpulkan ide dan menulis catatan. Keuntungan yang dapat dicapai dari penggunaan peta pembelajaran cukup banyak, diantaranya memacu daya ingat, menghemat waktu menulis catatan, serta menemukan dengan cepat apa yang ingin dicari dalam catatan. Peta pembelajaran dapat menjadi alternatif dari mencatat secara linier, yang membutuhkan banyak waktu serta kata-kata. Perbedaan yang mendasar antara peta pembelajaran dengan catatan linier adalah peta pembelajaran hanya menggunakan kata kunci, yaitu kata-kata yang merupakan intisari dari wacana yang dibahas. Kemudian dalam buku ini dibahas teknik pencatatan yang efektif. Penulis juga menambahkan, dalam menulis peta pembelajaran seseorang membutuhkan banyak latihan.

Teknik mengingat dibahas dengan cukup lengkap dalam buku ini. Buku ini juga memberikan pemaparan singkat yang mudah dipahami tentang cara kerja otak mengingat sesuatu. Dalam rentang abad telah banyak teori mengenai memori dan di mana letaknya. Banyak peneliti memori sepakat bahwa memori tersimpan di dalam korteks otak. Lalu dalam buku ini juga dinyatakan bahwa bertambahnya umur memiliki pengaruh yang sedikit terhadap hilangnya memori. Daya ingat seseorang akan menurun bila tidak dilatih. Buku ini juga menerangkan bagaimana orang dapat mengingat kata-kata yang diulang-ulang atau memberi kesan. Teknik mengingat yang dipaparkan diantaranya penggunaan logika dan imajinasi, asosiasi, ritme kata dan gambar serta teknik loci. Teknik loci ini digunakan oleh orator ulung Yunani, Cicero, untuk menghapalkan naskah pidatonya.

Buku ini tidak luput menjelaskan kepada pembaca bagaimana cara menerapkan peta pembelajaran dalam berbagai keperluan. Diharapkan dalam menerapkan peta pembelajaran pembaca mempunyai perencanaan belajar dan perencanaan pribadi. Apabila seseorang tidak mempunyai rencana pembelajaran maka ia akan menjadi musuh lingkungan, karena ia tidak mampu mengatur waktunya untuk kepentingan lingkungan dan keinginannya sendiri. Peta pembelajaran dalam belajar, mencatat secara cepat, membuat perencanaan, membuat analisis perekonomian, dan sebagainya. Dengan membaca dan menerapkan teknik mencatat dan mengingat dalam buku ini, diharapkan pembaca mampu mencatat secara efektif, sehingga pembaca memiliki waktu lebih banyak untuk menyimak dan ambil bagian dalam diskusi. Buku ini memiliki banyak latihan, yang dapat digunakan pembaca sebagai latihan dan pemantau kemajuan dalam membuat peta pikiran untuk kuliah, diskusi, pekerjaan dll., maupun untuk melatih ingatan.

Teknik membuat peta pembelajaran yang dibahas oleh penulis diantaranya adalah membuat peta pembelajaran dari teks orang lain. Pada halaman 70 disebutkan langkah-langkahnya. Langkah yang pertama adalah menentukan tujuan membaca teks. Membaca dengan tujuan menceritakan kepada orang lain atau sekedar membaca santai akan menemukan berapa jumlah kata yang ingin ditangkap. Langkah selanjutnya adalah membuat tinjauan menyeluruh terhadap teks. Bacaan yang pendek seperti artikel, koran dan majalah sebaiknya dibaca seluruhnya. Teks yang panjang seperti buku diperlakukan berbeda. Daftar isi, teks pada sampul dan kata pengantar dibaca terlebih dahulu untuk memberikan gambaran awal. Kemudian membaca cepat keseluruhan buku sambil memperhatikan dan menandai hal penting untuk memahami dengan lebih baik. Tipe teks juga perlu diperhatikan,karena pembaca harus menemukan desain yang cocok untuk tiap-tiap tipe teks. Secara sederhana sebuah teks dapat dikategorikan menjadi tiga kelompok, komparasi (perbandingan), kronologi atau rangkaian peristiwa dan presentasi (pemaparan).

Teknik mengingat dibahas mulai halaman 101. Pada halaman 116 dibahas cara mengingat secara asosiasi. Asosiasi berarti sesuatu yang berhubungan satu sama lain. Teknik ini mengajari pembaca untuk melatih memori dengan membuat hubungan antara satu kata kunci dengan berbagai kata. Teknik ini akan memudahkan pembaca untuk mengingat dengan cepat. Dalam buku ini juga dibahas bagaimana cara mengingat menggunakan isyarat tubuh.

Buku ini menarik, karena menyajikan cara baru dalam pembelajaran. Bahasan dalam buku ini cukup detail dan mudah dipahami. Teknik-teknik yang diajarkan menarik, terutama bagi kalangan pelajar untuk memudahkan pembelajaran.

Akhir kata, buku ini berguna dan layak dimiliki oleh pelajar/mahasiswa dalam mencatat atau meringkas bahan pembelajaran, dan penting juga bagi kalangan bisnis, guru, dosen, dan pembicara dalam bidang apapun.